Oleh : Farida Syarwani
Penulis : Mahasiswi Pasca Sarjana Tingkat Akhir Universitas Indonesia Jurusan Hubungan Internasional. Alasan penulis ingin mengangkat topik diatas karena kekaguman penulis terhadap salah satu Bapak Proklamator Republik ini. Penulis ingin mengungkapkan dinamika perpolitikan Indonesia di era perang dingin. Soekarno sebagai pemimpin tertinggi negeri ini di masa orde lama berhasil memainkan kepiawaian diplomasinya dengan negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Kurun waktu antara 1953-1963 (era perang dingin) pernah menjadi ajang sejarah negara ini, sebagai bukti bahwa dengan “gertakan sambal” Soekarno, Papua Barat (sekarang Irian Jaya)telah kembali ke pangkuan Ibu Petiwi. Kepimimpinan khas Soekarno adalah tidak akan pernah mau tunduk kepada hegemoni barat. Semangat nasionalisme yang ada pada dirinya menjadikan NKRI utuh di bawah genggamannya.Walaupun Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945, dengan kegigihan diplomasi para diplomat pilihan bangsa berhasil mempengaruhi pemikiran negara-negara jiran untuk turut serta dan aktif dalam “meng-kampanyekan” kemerdekaan Indonesia. Terbukti Mesir dan Iran sebagai negara yang pertama kali menyuarakan kemerdekaan untuk Indonesia di forum-forum internasional.
Ketika itu Irian Barat masih dalam negara boneka Belanda dan Belanda adalah sekutu dari Amerika Serikat, tidak mungkin saat itu Indonesia berperang dengan Belanda yang lebih memiliki kecanggihan peralatan perang untuk dikalahkan. Dengan tidak kehabisan akal Soekarno, memainkan kartu Uni Soviet untuk diajak berunding. Dikirimkanlah Soebandrio yang kala itu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Moscow. Hasil dari loby politik yang dilakukan oleh Soebandrio dan pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushehev. Uni Soviet berhasil dibujuk untuk mendaratkan kapal-kapal perangnya di perairan Indonesia sebelah timur. Saat itu pula, ketika Belanda melihat kapal-kapal perang Uni Soveit langsung ambil “kuda-kuda” untuk persiapan kembali ke kampung halaman. Kesimpulan dari paparan diatas, bahwa Indonesia negara cinta damai lebih mengedepankan loby politik, dibanding dengan kekuasaan perang.
Saat ini penulis ingin membawa pembaca ke era 70-an sampai sekarang. Ketika terjadi oil shock “peak oil”di tahun 1973, dimana negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Eropa tidak mendapat cukup supply minyak dari negara timur tengah, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam mulai bersikap membuka diri terhadap PMA (perusahaan modal asing) untuk mendapatkan capital guna menyukseskan program Soeharto di bidang pembangunan. Dari hasil jualan minyak, Indonesia berhasil membangun infrastruktur negara yang diperlukan. Walaupun ada juga dana tersebut masuk kedalam “infrastruktur kroni-kroni cendana”.
Ditambah lagi mulai tahun 1954-1973, Amerika sedang konsen terhadap perang Vietnam, Jepang memanfaatkan kelengahan Amerika dalam ‘meng-supply” rakyatnya akan kebutuhan ekonomi primer. Masuklah Jepang sebagai kapitalis negara pertama Asia yang ingin berkompetisi dengan “dragon-dragon Amerika”. Sebut saja Toyota, sebagai pelopor automotive nasional Jepang yang meng-ekspan capital powernya ke negeri paman sam ini. Dan diikuti oleh perusahaan lain dengan bendera Nippon Maru.
Tak ketinggalan Indonesia yang merupakan bangsa dengan jumlah penduduk sekitar (kurang lebih) 250 juta, merupakan sasaran empuk penjualan produk-produk Jepang. Ditambah lagi “labor cost” di Indonesia tergolong murah, dan diperbolehkan menggunakan labor outsourching, yang setiap saat siap diberhentikan tanpa pesangon.
Pengalaman penulis ketika pertama kali menginjakkan kakinya ke salah satu “kawasan industri” di wilayah Cikarang, penulis terhenyak melihat banyak mobil mewah, sebut saja Lexus; BMW, Mercedes dll berseliweran karena penulis penasaran, maka penulis lebih dekat melihat ke arah sang pengendara. Begitu dilihat ternyata si pengendara (of course disertai supir) keturunan Asia Timur. Ntah orang Jepang, China atawa Korea. Sedangkan orang lokal yang bekerja di kawasan tersebut atas pantauan penulis rata-rata menggunakan honda bebek, Yamaha Mio, Honda Beat itu pun kredit yang mungkin belum lunas dibayar.
Penulis berfikir secara jernih dan bertanya kepada hati nurani, APAKAH INI YANG DINAMAKAN PEMBANGUNAN ???. Memang benar karena adanya PMA asing tersebut, masyarakat Indonesia mendapatkan pekerjaan, itu artinya mendapatkan uang untuk membeli susu anak, belanja kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional atau di Carefour, bisa beli make-up dll. Tapi dengan ketentuan pemerintah yang selalu meng-update UMR berkisar antara 1 juta-an apakah cukup mereka membayar kredit motor, kredit rumah,, biaya sekolah anak, biaya beli susu anak, dan masih banyak lagi yang dipikirkan penulis.
Tahun 2000 s/d 2006 akhir (alhamdulilah) penulis mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di negeri samurai. Banyak sudah pelajaran yang dapat diambil oleh penulis selama study abroad. Salah satunya, kebijakan pemerintah Jepang untuk meniru segala aspek yang berhubungan dengan “modernisasi”bangsa Eropa atau dikenal juga dengan istilah“restorasi meiji” banyak mahasiwa/i Jepang yang dikirim ke Eropa, teruatama Jerman, ke Amerika dll dan pulang kembali ke negaranya “mencotek” segala bentuk budaya termasuk teknologi bangsa barat. Alhasil, mereka dapat menciptakan sepeda, radio, sampai akhirnya walkman, kereta api, shinkansen dll bahkan pesawat terbang. Ini semua dari hasil “mencotek” mereka kembangkan ilmu mereka di dalam negeri bekerja sama, tukar pengalaman dengan mahasiwa/i lainnya menghasilkan penemuan baru yang luar biasa hebohnya.
Lalu penulis berfikir dan bertanya pada hati nurani. Ibu pertiwi, kiranya kapan negeri mu dapat seperti negaranya Oshin ini. Penulis ingin sekali mendengar mobil nasional made in Indonesia, kereta api made in Indonesia. Akankah ini terwujud atau Cuma Mimpi yang tidak tahu batas.
Mampukah rakyat ini me-loby ulang para PMA Jepang dan negara lain untuk lebih “memanusiakan manusia Indonesia” dari segi penghasilan mereka. Mampukah Gertakan Sambal ala Soekarno terulang kembali ? Kami tidak dapat menjawab, kau lah sekarang yang menjawab. Para generasi muda, bangkitlah !
Sangat mengesankan tulisannya. Memang negeri kita bukan saja sedang dilanda krisis ekonomi tapi juga sedang dilanda krisis Kepemimpinan yaitu Pemimpin yang Berani melawan arus untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Jadilah Bangsa yang menjadi tuan rumah di negerinya sendiri seperti yang diharapkan para pendahulu kita. semoga !
BalasHapus